Selasa, 26 November 2013
SETETES KASIH
Aku selalu berharap, semoga Tuhan mengabulkan Doa-doaku. Doa penuh permohonan, Doa penuh derai air mata yang tak hentinya mengalir dari sudut mata ini.
Bukan Doa demi melanjutkan kuliahku, bukan. Bukan juga Doa untuk melanggengkan hubunganku dengan seseorang kekasih, tentu saja bukan. Hal-hal seperti itu sudah lama ku lupakan, Aku bisa menyelesaikannya nanti-nanti.
Tapi, sungguh ini Doa pertamaku yang penuh tangis, penuh harap. Tak peduli jangkrik-jangkrik coba mengganggu kekhusyuk-anku. Di sepertiga malam ini, Aku benar-benar memohon..
“Tuhan.. kembalikan kebahagiaan keluargaku seperti dulu..”
Dan terus ku ulang. Tanpa letih.
* * * *
Cahaya matahari menembusi kaca jendela kamar. Perlahan merayap pada permukaan dinding, lalu menyinari seluruh ruang kamarku. Begitu seterusnya usai langit melenyapkan violet merah milik bintang raksasa.
Indah bukan main jika memerhatikan keajaiban datangnya pagi, dan juga munculnya malam. Mungkin itu keajaiban Langit yang Tuhan berikan.
Tapi, tidak untuk hidupku. Mungkin Tuhan belum ingin memberikan keajaiban seindah itu padaku. Atau mungkin tidak akan? Ah.. Aku tak tahu..
Seketika lamunan rutinku buyar oleh elusan seseorang. Aku menoleh. Sosok itu mendekatiku yang berada di jendela dari usai tilawah, bibirnya tersenyum.
“indah ya? Itu perumpamaan layaknya kebahagiaan. Akan selalu membuat Kamu terpaku, diam ga ingin beranjak. Hani, terkadang Manusia harus mendapatkan kesengsaran dimana hal itu engga ngebuat Kita lupa akan pencipta yang di Atas..” telunjuknya mengarah keatas. Aku tahu.. “di Atas” itu adalah Tuhan.
Ia menatapku “kue udah jadi, bawalah ke toko Mbak Ani, keburu siang.” Aku mengangguk pelan.
* * * * *
to be continued..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar