Senin, 13 Januari 2014
curhat: apa salahnya menjadi 'sesuatu' yang berguna untuk akhirat?
banyak cara untuk kita menggapai cita-cita. meski tidak langsung mengarahkan kita kepada cita-cita yang sudah lama kita idamkan.
mungkin saya akan sedikit bercerita tentang permasalahan dalam menggapai cita-cita saya. sejak SMP saya sudah bergelut dengan buku-buku novel yang terus menginspirasi saya dalam bidang kepenulisan. penulis, reporter, penyiar, atau yang lainnya -- menurut saya -- sangat berhubungan dengan jurnalistik. oleh karena itu, secara singkat saya katakan bahwa saya menyenangi bidang tersebut. karena memiliki hobi dalam bidang jurnalistik, saya selalu menginginkan masa depan yang berhubungan dengan itu -- terutama kepenulisan -- yang sudah melekat di kehidupan saya.
so, saya terus memperdalam cara menulis kisah fiksi -- yang menjadi salah satu hobi saya -- sampai saat ini. meski sudah bertahun-tahun memiliki skill tersebut, terkadang otak saya tumpul lagi seperti kapak yang lama tak di asah.
intinya, saya mempunyai cita-cita yang berhubungan erat dengan kejurnalistik-an.
apakah mudah menggapai apa yang saya inginkan itu? menurut saya, tidak. sulit bagi saya untuk menggapai hal tersebut. dilihat dari sisi keluarga, sekolah dan lingkungan, setidaknya dukungan itu kurang memadai.
akhirnya cita-cita tersebut saya black list untuk sementara.
kembali berfikir, saat ini umur saya sudah 15 tahun, sudah memasuki semester 2 kelas sebelas. biasanya orang-orang berplanning-ria untuk masa depan yang akan mereka hadapi. kembali saya menggenggam pulpen dan buku 'rahasia' milik saya, berkutat dengan pikiran. saya ingin menjadi penulis, tidak, lebih dari itu. saya bahkan ingin menjadi sastrawan Indonesia. so, otomatis saya harus menggarap pendidikan lebih tinggi lagi. mata saya kembali melirik keluarga, saya menggeleng. mungkin kuliah belum menjadi hal yang di 'perlu'kan dalam keluarga saya, melihat kondisi 3 orang kakak yang sudah menginjak tingkat kuliah -- saya tidak mau menjadi beban lagi. setelah sekian lama berkutat, minta saran sana-sini untuk masa depan saya, semua saran mental begitu saja. tak ada yang di restui oleh otak ini.
semakin memikirkan masa depan, nyali saya semakin menciut untuk melangkah. wah, ini sangat berbahaya.
saya memandangi beberapa kakak saya yang sudah berjuang di tingkat perkuliahan. kakak pertama, bergelut di UNJ dengan jurusan Biologi-Bilingual,tetapi sekarang putus untuk sementara karena planningnya -- mungkin -- sedikit berubah, ia akan mendarat di negeri Hitler tahun 2014 kedepan. lalu kakak kedua, berjuang di jawa tengah, unsoed jurusan Farmasi, masih berlanjut hingga kini. dan kakak ketiga, meski masih SMA kelas dua belas, dia sudah memiliki planning untuk kuliah.
saya mendengus kesal. apa ada yang kurang? bukankah mereka suda menjadi hal yang berguna untuk keluarga ini? lalu, seorang sastrawan memiliki kehebatan apa dalam keluarga? bukankah semua orang bisa menjadi penulis? ahh.. saya jadi minder dengan skill saya..
beberapa waktu kemudian, saat saya tengah mengajarkan iqro kepada seoran adik, tak sengaja saya memutar otak ketika Ummi melontarkan sebuah kalimat. satu kalimat yang sungguh saya lupakan dalam planning berabad-abad milik saya. "habis ngajarin iqro, jangan lupa ajarin tahfidz surat-surat pendek yah". tetot. itu kalimat kunci yang merubah planning saya untuk kesekian kalinya saya rubah.
katakan saja, dalam buku 'rahasia' tersebut saya tuliskan 'lulus SMA, ke pondok pesantren Tahfidz', secara tidak langsung, saya membuang planning tentang kuliah. saya menulis sisi postif dan negatifnya, hmm, umur saya nanti masih sangat muda kok. setidaknya berada di pondok pesantren tersebut memakan waktu 2 tahun. cukup bagi saya. tapi mengubah planning ini membuat saya sedikit mengernyit. saya ingat, abi saya selalu mengharapkan anak-anaknya menjadi Hafidz dan Hafidzah. sayangnya, belum ada yang mencapai hafalan satu Qur'an. wah, ingatan itu seakan membuka mata saya, setidaknya, meski abi tak pernah hadir lagi dalam hidup saya, tetapi ucapan beliau selalu mempunyai makna yang baik untuk masa depan anak-anaknya. saya mulai faham. dengan keahlian kakak-kakak saya di bidang duniawi, saya berharap bisa menjadi pelengkap untuk menyempurnakan keluarga kami dengan menjadi Hafidzah yang akan sangat bermanfaat di bidang akhirat. dengan ini, abi tak perlu lagi mengeluh tentang kesulitannya merayu kami untuk menjadi apa yang beliau harapkan.
pengerjaan planning saya pun selesai. saya menutup buku 'rahasia', lalu meletakkan pulpen di sisinya. entah kenapa planning kali ini tidak membuat saya ragu. apakah karena menjadi seorang Hafidzah itu sangat di idam-idamkan? atau kah karena apa yang di inginkan abi saya akan di usahakan agar tercapai? entahlah.. meski saya mempunyai masa lalu buruk -- ketidak tertarikannya saya dengan tahfidz -- tapi saya yakin, saya pasti bisa melakukannya.
mudah memang untuk membuat sebuah planning, padahal untuk melaksanakannya saja butuh proses yang panjaaang. tapi, bagaimana bisa kita melakukan suatu hal tanpa tujuan atau planning? seperti sabda Rasul, "innamal a'malu binniyat", iya kan? segala sesuatu tergantung niat. kalau planning kita terlalu berlebihan, tapi hati ini sudah bertekad, memiliki niat yang baik, toh pasti Allah kasih jalan untuk kita. apa sih yang tidak Allah berikan untuk hamba-hamba-Nya yang terus bertawakal, istiqomah dan optimis dalam menggapai cita-citanya :)
akhirul kalam dari saya, ini sekedar bercurhat-ria :D semoga dengan saya menuliskan ini di blog, saya bisa menjadikannya semangat ketika kembali menatap blog yang 'kosong' ini, semangat hidup, semangat penuh perjuangan :)
sekian dari saya..
salam hangat,
penulis.
Langganan:
Postingan (Atom)