Angin berderu kencang. Langit sore yang mengesankan..Bersinar bak cahaya ketentraman..deruan air laut yang menabrak dinding tebing..saat itu, di atas tebing itu.. aku berdiri layu, sembab mataku menahan air mata yang siap bergelimang, aku menatap sosok yang tengah berdiri sigap, tubuhnya memunggungiku.. ia berada di ujung tebing tinggi yang menjuru di atas laut..
Tepat di situ, aku berdiri tak jauh darinya..
“ yuki.. kamu tau hidupku tak akan berarti lagi..tak akan pernah..” suara lirih sosok itu bergema.
Aku memandangnya sembab. “mah.. mamah harus kuat menahan kehidupan ini.. mamah harus yakin dengan segalanya..” ku coba membuka mata hatinya yang telah tertutup rapat.
Ku langkahkan kakiku, sekuat tenaga. ku coba untuk meraihnya, dan merangkulnya penuh kasih.. kupeluk erat dengan tetesan air mata yang tak tertahankan.. mengalir begitu saja.. “ na-nanti nasibku gimana mah.. nasibku dan nasib ka ayumi..hik..” tak ada kata apapun yang melun cur dari bibir beliau.. hanya tangisan yang terdengar, beserta deruan air laut yang mengitari kesedihan..
Tiba tiba pelukkanku di lepas secara kasar hingga aku terlempar dan jatuh beberapa meter darinya.kakinya melangkah menuju ujung tebing yang rapuh, ia melepaskan sepatu hak-nya dan menatapku penuh arti.
“yuki.. aku mungkin tak bisa menjadi seorang ibu seutuhnya.aku tak memenuhi semua yang semestinya telah menjadi kewajibanku. Aku tau kamu pasti lelah mengejarku seharian. Hatiku gelap, mataku letih, aku ingin istirahat yang lama yuk. Plis.. mengertilah penderitaanku,aku ingin kembali bersama haikal di dunia sana, kami akan bahagia.. ya.. bahagia .. hahaha..ba-hagia..” cukup sudah. Aku sudah terlalu sering mendengarnya mengeluh dan di akhiri tawaan terpaksanya. Hal itu sudah biasa, semenjak ayah mati di bunuh pembunuh berantai di gang mafia trix’s.
Aku harus bagaimana. Kak ayumi sedang kuliah, sedangkan aku adalah anak yang tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak bisa menghentikan setan yang terus membisiki mamah untuk segera melakukan aksi bunuh diri.
Tapi, aku harus mencoba.. ya.. “ mamah bicara apa sih.. mamah itu sudah menjadi is the best buat aku. Mamah sudah mewarnai hidup aku yang kelam... tanpa mamah, aku tak mungkin ada di dunia ini. Tanpa mamah, bagaimana dengan nasib aku dan kak ayumi?”
Setelah aku berkata seperti itu, beliau memalingkan mukanya dan berjalan sambil menutup mata. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa, seperti ada tangan-tangan yang menahanku tuk menolong mamah dari kegiatan yang tak bisa di ampuni ini.
“ maafin mamah ya.. yuki, anakku..” oohh.., tidak. Ini bukan saatnya aku diam begitu saja. Aku segera menggerakkan kakiku, tangan ku ulurkan, tapi…
BYUUURRR…..!!!
“ mamaaaaaahhh!!” ahh.. ahirnya aku memang tidak berarti di dunia ini. Aku tidak bisa menghentikan orang yang sangat di butuhkan dalam hidupku.. bodoh..
“ yuki…. Kamu bodoh..” Suara halus yang menusuk telingaku. Kata yang pantas untuk seorang yuki yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, suara siapa kah itu.. aku segera membalikan badan,mataku yang penuh dengan genangan air mata itu pun menatap sesosok tubuh tinggi, berambut panjang yang di kuncir kuda,ia memakai gaun berwarna pink selutut, dengan tangan yang di lipat pada dada.
“amaii?”
“ yuki.. kamu benar-benar bodoh..”
“eh? Ko kamu bisa di sini?”
“ bukan urusan kamu.. yang penting ayo kita cepat pulang dari tempat ini..” tanganku di tarik keras olehnya, kemudian dia membalikkan badan sembari menyeretku yang telah terduduk layu.
“tapi.. kamu lihatkan? Mamahku.. lihatkan?” tiba-tiba sunyi menyergap kami. Dia menengokkan kepalanya ke arahku.
“aku lihat. Aku melihatnya dari awal. Itu semua gara-gara kamu yuk.. kamu kenapa ga bisa menghentikan dia? Kamu kenapa sih? Kamu aneh yuk.. orang yang benar-benar berharga dalam hidup kamu, ketika dia bunuh diri, kamu membiarkan begitu saja?” kata-kata itu meluncur tajam ke dalam telingaku. Tiba-tiba, tetesan air mata yang sudah tak terbendung mengalir dan membasahi pipi-pipiku yang kusam .
“ amaii.. kamu gak tau apa yang terjadi dalam diriku. Kamu ga ngerti semua yang aku rasakan.” Aku berucap dengan bibir yang kaku. Tiba-tiba dia menarikku dan membawaku turun dari tebing suram itu.
“ hey!”
“apa?”
“sakit tau tanganku! lepaskan!” dia melepaskan tanganku, kemudian aku segera berlari mendekati mobilnya yang berada di pinggir jalan.
“ cepat masuk, sebentar lagi pasti ada patroli yang datang ke sini..” katanya sambil membuka pintu mobil dan mempersilahkannya kepadaku.
“kenapa? Kok patroli bisa ke sini?” tanyaku.
“pokoknya kamu naik dulu, nanti di jalan baru aku jelaskan.”
Setelah menaiki mobil, amaii menyalakan mesin mobil dan melaju kencang.
“ mamahmu itukan artis yuuk..” dia membuka topik.
“terus? Kok kamu bilang patroli sebentar lagi akan datang ke tebing itu?”
“hhhm.. waktu aku ngebuntutin kamu dan mamahmu, aku sempat melihat reporter ikut mengikuti kalian. Yasudah, sekaligus saja aku menguping pembicaraan mereka di belakang pohon dekat tebing.” Tutur amaii dengan mimik sumringah. Aku mengerutkan sebelah alisku, bukan tak mengerti apa yang di bicarakannya, tapi, mengapa ia tersenyum dengan wajah yang sumringah?
Tanpa di sadari, mobil sedan berwarna putih yang sedang ku naiki itu pun berhenti di depan rumah bertingkat dua dengan dekorasi yang sangat menata. Itu adalah rumahku yang di tata secara langsung oleh mamah.dia adalah orang yang sangat hebat dalam hal dekorasi. Hingga tak jarang ia di sebut “arsiteker”. Mengingat mamah, tanpa di sadari air mataku kembali menetes perlahan membasahi wajahku yang kusam dan sembab. Tuhan… mungkin aku tak akan bisa menjadi manusia yang berguna bagi siapa pun, aku adalah orang bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa. Renungan ini sebelumnya tak pernah menggerogoti akal pikiranku hingga aku benar-benar menjadi orang yang biasa di tinggal mati oleh orang-orang yang sangat di sayangi dan sangat di butuhkan dalam hidupku. Hampa sudah..
Ku tatap kembali rumahku yang indah,mataku beredar ke setiap arah,tepat di depan teras rumah, aku mendapati sesosok gadis anggun dan manis yang tengah duduk kelelahan dengan napas yang tersengal-sengal. Ku dekati sosok itu, kepalanya tunduk menatap tanah yang hampa, sambil menendang-nendang udara yang tak bergerak.
“kak ayumi?” panggilku perlahan. Tiba-tiba ia menoleh ke arahku dengan wajah yang penuh kekecewaan. Aku mencoba duduk di sebelahnya, dan menatapnya.
“kamu tadi kemana sama mamah?” tanyanya datar. Aku bergidik, tahu dari mana dia kalau tadi aku mengejar mamah?
“ka, masuk dulu yuk! Aku laper nih..” aku mengalihkan pembicaraan, dan aku pun berdiri sambil berjalan menuju pintu rumah.
“mamah di mana?” suaranya meninggi.
“kenapa engga balik ke rumah lagi? Bukannya tadi lari-larian sama kamu yuk? Ke mana dia yuk?” ohh… pertanyaannya terlalu menyulitkanku tuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi kepada mamah yang kini telah bersambutan dengan kematian. Tangan ku kepalkan, mata ku pejamkan, aku siap menerima makian dari seorang ananda ayumi desty.
“mamah…. Tadi pergi ke dunia baru, kata mamah, dia senang berada di sana, dia bahagia karena bertemu kembali dengan ayah, dia bilang, minta maaf kepada kita karena akan meninggalkan kita dengan waktu yang lama. Di..dia bila..ang.. ka..kalau dia eng..ngga bi..sa.. hik…hik..” kembali air mataku ,menetes membasahi pipiku yang kusam, serasa mataku sudah jebol dan tak akan bisa berhenti. Tubuhku bergetar, aku tak bisa menghentikan hal ini..
Tapi, gadis di belakangku ini, tangisannya melebihi suaraku, getaran tubuhnya lebih hebat dariku, hatinya lebih berkecamuk dari pada hatiku.
Dalam kediaman…. Aku hanya bisa memaki diriku yang tak berguna ini..
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
3 bulan kemudian..
Suara benturan kerikil yang saling beradu dengan benda lain, itulah yang sedangku dengar di balik tong sampah besar yang terbuat dari semen. Rintihan seseorang, tawaan yang lain, bibir yang mengaduh. Aku hanya bisa sesekali mengintip dari tembok tong sampah itu, tak bisa berkutik, dadaku sesak melihat kejadian itu, tubuhku panas dingin takut kepergok dan ikut di sertakan dalam kejadian itu, aku hanya bisa ikut beraduh, hanya bisa ikut menahan rasa sakit, hanya bisa berdoa agar mereka cepat meninggalkan orang itu.
Orang-orang berandal tak di kenal itu pun pergi meninggalkannya seorang diri.Mulutnya masih berkomat-kamit tak jelas. Segera ku dekati dia yang terduduk lemah, hanya berjarak lima meter dari tempatku berada.
Aku memicingkan mata.Sedikit mengeluh melihat ke adaannya yang agak menyedihkan.
“kamu gak kenapa-napa?” Tanyaku pelan.Dia mendongakkan kepalanya dan menatapku yang tengah berdiri di depannya.
“haha.. gak kok.. gue udah biasa sama yang kaya ginian.” Jelasnya. Aku pun ber-oh. Tapi, kejadian itu cukup membuatku ngeri, seperti penganiyayaan pada anak remaja.tiba-tiba mataku tertuju pada logo yang tertera di lengan seragamnya, sekolah SMA sama denganku. Apakah dia kakak kelas?
“eh, kita satu sekolah lho..lihat, logonya sama!” belum ku tanyakan, dia sudah membaca pikiranku.
“namamu siapa?” tanyanya dengan raut muka yang antusias.
“dinda ayuki destya” jawabku sambil mengulurkan tangan. Dia menyambut tanganku, dan berkata “ gueyusa el-faiz” aku hanya mengangguk, mataku melirik jam tangan putih yang menunjukkan waktu pukul tujuh kurang,
“ayo ke sekolah! Entar telat yus..” sautku sambil berlari. Dia ikut lari masuk ke dalam sekolah, dan pergi menuju kantor.
“sepertinya anak baru…” gurauku.
Yaah..semoga saja dia jauh lebih baik dan lebih bisa bertindak dari padaku.
“ panggilan kepada adinda yuki destya.. harap ke ruang guru..” namaku di panggil dan di suruh untuk pergi ke kantor. Ada apa ya? Serasa tidak enak..
“yuki… innallaha ma’a sobirin.. segala sesuatu pasti akan kembali kepada pemiliknya.” Tutur bu ina dengan wajah yang menahan genangan air mata.
“memangnya ada apa bu?” tanyaku belum pasti. Ada yang pergikah?Ada yang pergi jauh meninggalkanku kah?
“kakakmu ayumi, di bunuh dan di dapati berada di depan gang mengerikan itu yuk. Saat itu jalanan sedang ada perbaikan. Dia juga sangat terburu-buru untuk pergi ke kuliahannya. Dan akhirnya terpaksa melewati gang itu, karena ia menganggapnya sangat sepi di dalam gang itu..akhirnya ia bertekad.”
DEG!! Hancur sudah hidupku, aku sudah terlalu merana seperti ini..kembali tetesan air mataku turun dan lagi-lagi turun membasahi pipi-pipiku. Kejadian itu sama dengan kejadian ayah..sangat percis.. seperti nasib yang menimpa mereka berdua, ya.. mati di dalam gang matrix.. mungkinkah aku juga akan?
“ terimakasih bu.. atas informasinya..”
Aku keluar dengan menahan umpatan atas dunia yang begitu membuatku merana. Tak ada siapa pun yang bisa membangkitkanku lagi, tetesan air mata pun sekarang tak di butuhkan lagi dalam hidupku yang telah banyak kehilangan segala apa yang aku sayangi dan aku cintai..
“yuki.. sabar yaa.. aku akan tetap ada di samping kamu ko..” saut amaii suatu ketika, aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Ku temui sosok malaikatku yang telah terkapar dan terbaluti kain kafan. Aku berjanji, aku bertekad akan membalas semua ini, ini adalah janjiku kepada kak ayumi..
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Beberapa bulan kemudian..
“kamu pasti bisa.. saya berharap besar kepadamu.. yuki..” kata dokter aren kepadaku. Ia memberikan suntikan full cairan yang mematikan. Setelah aku bertekad ingin membalas dendam kepada orang-orang yang telah membunuh ayah dan kakak ku, aku bekerja sama dengan dokter aren..membuat rencana untuk membasmi habis orang-orang yang ada di dalam gang angker itu.
“eh, katanya anggota gang angker berantai itu, tigaorang dari SMA sebelah, dan dua orang dari SMA di sini. Waduh gawat dong ini sekolah..” aku menguping gosip anak-anak perempuan yang sedang riuh di kelas karena mengetahui kabar tentang gang angker itu.
Siapa yang akan jujur dan mengaku bahwa dia adalah salah satu anggota gang itu? Akan adakah?
“yuki.. aku peringatin sekali lagi buat kamu.. sekaliii lagi, kamu jangan sampe ngelewatin gang itu ya.. pliis.. aku gak mau nasib kamu sama dengan nasib kakak dan ayah kamu. Kamu tuh baik, aku gak tega..okeh?” gak tega? Apamaksudnya ini?
“gak tega gimana maii?” tanyaku heran. Tapi tiba-tiba amaii meninggalkanku begitu saja tanpa menjelaskannya terlebih dahulu. Akhirnya aku kembali ke rumah dan menimbang-nimbang apa yang barusan terjadi.
“yuki… aku salut sama kamu yang kuat dan tegar.. aku senang sama kamu yang bisa menahan segala sesuatu yang menimpa kamu.. aku harap kamu tidak melewati gang angker dan berbahaya itu.. ku mohon..” kata yusa kembali dengan wajah yang mengantusias. satu lagi orang yang sengaja peduli denganku. Entahlah apa maksudnya, aku hanya bisa mengangguk tapi itu adalah misiku, yaitu menghancurkan orang-orang yang telah membunuh ayah dan kakakku. Bukan hanya mereka, tetapi masih banyak lagi yang telah di bunuh, dan tak ada yang keluar dari gang itu dalam keadaan hidup.
Kini aku hidup sendiri, mungkin ini saatnya aku menemui mereka orang-orang yang aku sayangi itu..
“tolong kamu datang ke rumah saya yuk. Ada yang ingin saya katakan..” kata dokter rien di telepon. Aku meng-iyah..segera aku siap-siap menuju rumah dokter rien yang terletak di seberang desa.
“neng.. maaf ya, sedang ada perbaikan jalan di sini, di harapkan eneng jangan lewat sini.. silahkan ke jalan yang lain.” Tutur seorang pekerja jalan.Aku mengangguk. Akhirnya aku pergi kew setiap jalan besar, tpi…
“mbak.. punteenn jasa… gak bisa di lewati dulu. Masih lembek. Maaf yaa..”
NIHIL!
Aku termenung..hal ini terjadi lagi.. dan hal ini terjadi kepadaku.. tapi, aku belum siap, dokter ingin membicarakan sesuatu. Aku terpaksa pulang dan membawa suntikan yang waktu itu di berikan dokter rien..
Sesampainya di depan gang angker itu, aku banyak menelan ludah, seperti menghadapi api-api yang membara di depan mata.
“aku berserah diri kepadamu ya Allah..”
Ya Allah, jika aku berhasil lolos dari gang ini tanpa halangan, maka tenangkan aku dalam keadaan seperti ini, tapi, jika aku tak bisa lolos dan terjebak di dalamnya, maka berikanlah aku kesempatan untuk membasmi mereka para pembunuh berantai. Tekadku pun bulat.
Segera aku masuk ke dalam gang tersebut, sedikit berkomat-kamit, dan melangkahkan kaki bak pencuri yang memasuki suatu bank besar.
Sepuluh langkah ku lewati dengan ketenangan..semoga aku lolos dari markas iblis ini.
Lima langkah ku lewati dengan sedikit kebanggaan…
Lagi-lagi lima langkah ku lewati dengan senyuman kemenangan..
Dan..
Sekitar tiga langkah lagi aku sudah berada di luar..
Akan tetapi….
“heyy….” Saut seseorang dari tengah gang yang gelap.Aku terdiam.Tak mungkin aku bisa lari dalam keadaan seperti itu.Terdengar langkah kaki yang berdentum dan bergema di dalam gang itu. Semakin dekat dengan tempat ku berada..
“tuhaann..” jeritku dalam hati….
Aku kembali berkomat-kamit tak menentu..
Tiba-tiba tangan orang yang mendekatiku memegang pundakku dengan kasar,
“kamu mirip dengan ayumi?”tanyanya datar.
“ya memang.” Jawabku dengan suara yang di tinggikan.
“kamu tak secantik kakakmu itu ya… sayang sekali kamu adalah korban ketiga dari keluarga haikal.. hahaha..” tertawa yang sangaat di paksakan.
Tiba-tiba muncul dua orang lagi dan menyusulku.Tapi hanya tiga orang? Bukannya ada lima orang?
“hey! Maii maii..ayuuss! Cepatlah!” kata orang yang sedari tadi berbicara denganku.
Maii maii?Ayuss?E..ee..hh…
Mereka muncul dari sampingku yang gelap karena tak ada lampu sama sekali dalam gang itu.
“amaii??! Yusa??!!” aku tak percaya..mereka adalah anggota gang angker ini. Sahabatku yang selama ini memberiku semangat..ergh…
“sudah ku bilang .. jangan kesini yukii…” bisik yusa sambil menahan rasa risih.
“tapi kenapa mesti kamu yang menjadi salah satu anggota iblis ini???” hatiku bertanya-tanya..yusa hanya tersenyum terpaksa. Di sebelahku ada amaii yang tengah tertunduk lemas, ia memegang kapak besar, dengan pakaian serba hitam, yusa dan yang lainnya juga, mungkin itu adalah seragam mereka.
Lalu, apakah aku akan mati di tangan mereka dan sahabat-sahabatku ini?
Tiga orang di antara mereka mendekatiku, mereka memutar-mutarkan pisau yang ada di tangan mereka, dengan gaya yang menandakan bahwa mereka orang yang berkuasa atas acara pembunuhan itu.
Tapi tak tampak ada yusa ataupun amaii di antara ketiga orang itu, mereka kemana?
Aku segera mengeluarkan suntikan full cairan mematikan dari dokter aren, tapi, akan mati jugakah aku?..
Orang-orang itu semakin mendekat dan mendekat..aku menyembunyikan tanganku yang menggenggam suntik di balik punggungku.
“siap-siap kau, ayahmu yang sok bisa membasmi orang-orang hebat seperti kami, ayah kamu yang mengatakan bahwa kami adalah orang-orang jahat yang tak bisa di ampuni, padahal kami membawa mereka ke dalam syurga yang tenang, sungguh tidak bersyukur kepada kami.. huahahahaha…” aku mengepalkan tanganku, ingin rasanya ku siksa dahulu orang-orang ini.. ah..
Secara matrix, pembunuhan ini bagaikan permainan, beradu dan saling bertabrakan, jatuh dan bangun lalu berlari dan mencoba tuk menusuk..
Tepat di depanku seseorang bertubuh besar dengan muka yang sangar, aku mengeratkan suntikkanku,
Dan..
Tiba-tiba tanganku di tangkis olehnya dan suntikkan itu terlempar jauh, tepat di samping kaki yusa..
Aku angkat tangan..mungkinkah mereka juga akan menyiksaku.. mungkinkah mereka juga akan menyuntikku dan mengkhianatiku..
“yu…sa.. am..maii… pliiiss.. hikss..” bibirku berucap dengan nada yang memohon, tanpa ku sadari. Ku lihat dari kejauhan, yusa berlari kearahku yang di kerumini tiga orang pembunuh berantai, pikiranku sudah tak menentu. Mungkin memang dia akan membunuhku dengan senjata awalku itu.. “tuhaann..” aku merintih..
Ku pejamkan mataku..aku memukul kearah mana saja, kena maupun tidak, rasa sakitku sudah tak tertahankan..
“UKH!!ARGHHH!!!” suara jeritan dan rintihan terdengar di setiap detiknya.Benda jatuh, atau… manusia?
Aku membuka mataku, tiga orang itu sudah terkapar lemah, hanya sesosok orang yang berdiri gagah..bayangannya tampak mengesankan.. seperti… ayah?
“aku.. minta maaf yuk.. ini memang pekerjaanku, aku pindah ke sini karena memang di utus dari bos-ku, membunuh adalah kebutuhan hidupku. Tapi aku tersadarkan oleh seorang sahabat yang baik hati dan cerdas, aku sadar, aku telah merusak kebahagiaan orang lain, termasuk kamu.. semestinya aku yang pantas mati, bukan ayahmu atau kakakmu. Sekali lagi aku minta maaf ya yuki..” suntikan yang ada di genggaman yusa, meluncur di atas kulitnya,
Entah apa yang merasukiku..aku menangis sejadi-jadinya, satu kiasan yang di tinggalkan olehnya yaitu.. senyuman manis tanda permintaan maaf.. ya… aku maafkan kau yusa.. my best friend.. kau selalu terkenang di hatiku..
“aku juga minta maaf yuk.. tapi aku sudah tertangkap basah oleh polisi, sering-sering jenguk aku ya di penjara yuk..”.. ya..kapan-kapan ya maii. aku senang sekarang.. ku pandangi cahaya yang datang menemuiku, terasa hangat seperti menyelimutiku, ini mungkin saatnya.. selamat tinggal semua.. trims friend… ini adalah sebuah pelajaran bagiku.. usaha yang tak sia-sia, meski nyawaku harus melayang jauh, meninggalkan kenangan indahku di dunia ini..
the end....